Selasa, 16 Desember 2014

Manusia sebagai Khalifah

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  LATAR BELAKANG
Manusia adalah salah satu ciptaan Allah SWT. yang paling sempurna. Diciptakan dari saripati tanah yang kemudian menjadi nutfah, alaqah, dan mudgah hingga akhirnya menjadi wujud yang sekarang ini.
Salah Satu kesempurnaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain ialah adanya akal dan nafsu. Dua hal inilah yang membuat manusia dapat berfikir, bertanggung jawab, serta memilih jalan hidup, kelebihan-kelebihan ini seperti yang dijelaskan pada Q.S. Al-Isra 70. Selain itu ada kelebihan lain yang dimiliki oleh manusia sehingga membuat manusia berbeda dari sesama manusia yaitu hati.
Jika hati manusia kotor, derajatnya tentu akan sangat rentan di mata Allah SWT. Namun sebaliknya jika hatinya bersih dari segala perbuatan yang kotor maka tentu derajatnya akan ditinggikan oleh Allah SWT.
Sebagai makhluk Tuhan tentu manusia selain memiliki hak juga memiliki kewajiban. Kewajiban yang utama adalah beribadah kepada Allah SWT. sehingga apapun yang dilakukan manusia harus sesuai perintah Allah SWT.
Adapun Tanggung jawab manusia diciptakan oleh Allah SWT. di dunia ini adalah sebagai khalifatullah dan sebagai abdi atau hamba Allah SWT





1.2  RUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan latar belakang di atas timbul beberapa masalah,diantaranya:
1.         Apakah pengertian manusia dalam islam?
2.         Bagaimanakah penciptaan manusia dalam islam?
3.         Bagaimanakah eksistensi dan martabat manusia ?
4.         Apakah tujuan penciptaan manusia?
5.         Apakah fungsi dan peranan manusia dalam islam?

1.3 TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari topik ini adalah:
1.        Mengetahuipengertian manusia dalam islam.
2.        Mengetahui proses penciptaan manusia dalam islam.
3.        Mengetahui eksistensi dan maratabat manusia.
4.        Mengetahui tujuan penciptaan manusia.
5.        Mengetahui fungsi dan peranan manusia dalam islam.



BAB II
PEMBAHASAN


2.1 HAKIKAT MANUSIA DALAM ISLAM
                 Menurut bahasa, Hakikat berarti kebenaran atau sesuatu yang sebenar-benarnyaatau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Karena itu dapat dikatakan hakikat adalah inti dan jiwa dari suatu syariat itu sendiri.
Sedangkan Manusia atau Al-Insan adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman kepada Allah, dengan mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan berakhlak (N.A Rasyid, 1983: 19).

2.1.1        Makhluk yang paling unik.
Dijadikan dalam bentuk yang paling baik, ciptaan Allah yang paling sempurna, Keunikan manusia dapat terlihat dari bentuk struktur tubuhnya, gejala-gejala yang ditimbulkan jiwanya, proses pertumbuhannya yang melalui tahap-tahap tertentu, dan sebagainya.Hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya dan ketergantungannya terhadap sesuatu, menunjukkan adanya kekuasaan di luar manusia itu sendiri.

2.1.2        Manusia memiliki potensi beriman kepada Allah.
Sejak dari awal tempat asalnya, manusia telah mengakui Tuhan, dan telah bertuhan.Pengakuan dan penyaksian bahwa Allah adalah Tuhan yang meniupkan ruh ke dalam rahim wanita yang sedang mengandung berarti bahwa manusia mengakui kekuasaan Tuhan termasuk kekuasaan Tuhan dalam menciptakan agama sebagai pedoman hidup manusia.
2.1.3        Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah.
Mengabdi kepada Allah dapat dilakukan manusia melalui jalur khusus danumum.
a.    Khusus:Melakukan ibadah khusus dan pengabdian langsung ke pada
Allah seperti ibadah sholat, shaum, haji dsb.
b.   Umum:Melakukan amal saleh yang bermanfaat bagi diri sendiri dan
orang lain, dilandasi dengan niat ikhlas dan bertujuan untuk mencari keridhaan Allah.

Allah selaku pencipta alam semesta dan manusia telah memberikan informasi lewat wahyu Al-Quran dan realita faktual yang tampak pada diri manusia. Informasi itu diberi-Nya melalui ayat-ayat tersebar, tidak bertumpuk pada satu ayat atau satu surat. Hal ini dilakukan-Nya agar manusia berusaha mencari, meneliti,memikirkan, dan menganalisanya.Tidak menerima mentah demikian saja. Untuk mampu memutuskannya, diperlukan suatu penelitian Al-Quran dan sunnah rasul secara analitis dan mendalam. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan penelitian laboratorium sebagai perbandingan, untuk merumuskan mana yang benar bersumber dari konsep awal dari Allah dan mana yang telah mendapat pengaruh lingkungan.Hasil penelitian Al-Quran yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulannya bahwa manusia terdiri dari unsur-unsur: jasad, ruh,  nafs, qalb, fikr, dan aqal.







2.1.4 Penciptaan Manusia
Hal ini merupakan prinsip pertama dari perkembangan yang dapat dipahami dalam Al-Quran, ketika menyatakan bahwa Allah Maha Pencipta. Dengan kata lain, kehidupan manusia memiliki pola dalam tahapan-tahapan tertentu yang termasuk tahapan dari perubahan sampai kematian.(Q.S Nuh 13-14) menyatakan bahwa manusia diciptakan dan ditentukan untuk perkembangan dalam tahapan. Ayat ini dalam pengertian bahwa manusia diciptakan dari nutfah (tetesan), kemudian diubah menjadi alaqah (segumpal pendarahan), kemudian menjadi mudhgah (segumpal darah), dan seterusnya.(Q.S al-insyqaq 19) dalam pengertian surat ini bahwa manusia tumbuh dari satu keadaan lain sedemikian rupa, menjadi kanak-kanak setelah bayi, menjadi tua setelah muda dan kuat.
Dalam surat Al-Mu’minun ayat 12-15Allah S.W.T berfirman: Artinya :“12.Dan Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.13.Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).14.Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilahAllah, Pencipta yang paling baik.15.Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.(QS. Al- Mu’minuun 23 : 12-15). “
Dari ayat diatas ini diketahui bahwa perkembangan embrio terjadi secara bertahap. Tahapan-tahapan yang digambarkan dua ayat ini sama persis dengan temuan ilmu pengetahuan modern. Secara global, pertahapan itu dapat dijelaskan sebagai berikut : Sel telur yang belum dibuahi diproduksi oleh organ wanita dan diletakan pada semacam tabung yang disebut fallopian. Saat bersenggama, akan ada satu sperma laki-laki yang membuahi sel telur. Sel telur yang dibuahi akan bergerak ke rahim (uterus)dan menempel pada dinding rahim.Ketika menempel di dinding rahim, embrio akan berkembang sekitar 3 bulan.Setelah itu, terjadi perkembangan janin selama kurang lebih 6 bulan pada masa persalinan.

Dalam surat assajadah  ayat 7-9 yang berbunyi:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن طِينٍ ﴿٧﴾ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ ﴿٨﴾ ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ ﴿٩﴾
Artinya : Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.(Q.S Assajadah 7-9)

Dari ayat al-Quran diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dari tanah. Tanah yang diinjak-injak sehari-hari, tanah yang dijadikan tempat bercocok tanam,tanah yang kering dan yang basah, tanah yang dijadikan tempat hidup bagi cacing-cacing, tanah yang dijadikan sebagai bahan baku membuat genting,bata merah untuk membuat bangunan tempat tinggal, itulah bahan baku untuk kejadian seorang anak manusia dan tiap-tiap manusia tanpa terkecuali. Di mulai dari apa yang dimakan sehari-hari, misalnya nasi,gandum,jagung,sayur-mayur dan buah-buahan hingga daging, segala makanan yang dikonsumsi manusia itu tumbuh dan mengambil sari makanan dari tanah.
2.2 KONSEP MANUSIA
            Konsep manusia dibagi menjadi tiga bagian:
2.2.1 Manusia sebagai sistem
Manusia ditinjau sebagai sistem, artinya manusia terdiri dari beberapa unsur/sistem yang membentuk suatu totalitas yakni sistem adaptif, sistem personal, sistem interpersonal, dan sistem sosial.
Manusia sebagai sistem adaptif, disebabkan:
·  Setiap individu dapat berubah
·  Setiap individu merespon terhadap perubahan
·  Manusia sebagai sistem personal,
·  Setiap manusia memiliki proses persepsi
·  Setiap manusia bertumbuh kembang
·  Manusia sebagai sistem interpersonal
·  Setiap manusia berinteraksi dengan yang lain
·  Setiap manusia memiliki peran dalam masyarakat
·  Setiap manusia berkomunikasi terhadap orang lain
·  Manusia sebagai sistem sosial,
·  Setiap individu memiliki kekuatan dan wewenang dalam pengambilan
keputusan dalam lingkungannya; keluarga, masyarakat, dan tempat kerja.
Manusia sebagai sistem terbuka yang terdiri dari berbagai sub sistem yang saling berhubungan secara terintegrasi untuk menjadi satu total system yang terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
a.       Komponen biologis adalah anatomi tubuh
b.      Komponen psikologis adalah kejiwaan
c.       Komponen sosial adalah lingkungan
d.      Komponen kultural adalah nilai budaya
e.       Komponen spiritual adalah kepercayaan agama
2.2.2 Manusia sebagai adaptif
Adaptasi adalah proses perubahan yang menyertai individu dalam respon terhadap    perubahan lingkungan mempengaruhi integritas atau keutuhan. Lingkungan adalah seluruh kondisi keadaan sekitar yang mempengaruhi perkembangan organisme atau kelompok organisme.Model konsep adaptasi pertama kali dikemukakan oleh Suster Callista Roy (1969). Konsep ini dikembangkan dari konsep individu dan proses adaptasi seperti diuraikan di bawah ini.
Terdapat tingkatan dan respon fisiologik untuk memudahkan adaptasi:
·         Respon takut (mekanisme bertarung)
·         Respon inflamasi
·         Respon stress
·         Respon sensorik
Asumsi dasar model adaptasi Roy adalah :
1.    Manusia adalah keseluruhan dari biopsikologi dan sosial yang terus-menerus berinteraksi dengan lingkungan.
2.    Manusia menggunakan mekanisme pertahanan untuk mengatasi perubahan-perubahan biopsikososial.
3.    Setiap orang memahami bagaimana individu mempunyai batas kemampuan untuk beradaptasi. Pada dasarnya manusia memberikan respon terhadap semua rangsangan baik positif maupun negatif.
4.    Kemampuan adaptasi manusia berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, jika seseorang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan maka iamempunyai kemampuan untuk menghadapi rangsangan baik positif maupun negatif.
5.    Sehat dan sakit merupakan adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari dari kehidupan manusia.

2.2.3 Manusia sebagai holistik
Manusia sebagai makhluk holistik mengandung pengertian sebagai berikut, manusiaadalah makhluk yang terdiri dari unsur biologis, psikologis, sosial dan spritual, atau sering disebut juga sebagai makhluk bio-psiko-sosial-spritual. Dimana, keempat unsur ini tidak dapat terpisahkan, gangguan terhadap salah satu aspek merupakan ancaman terhadap aspek atau unsur yang lain.

2.3  MARTABAT ATAU EKSISTENSI MANUSIA
2.3.1 Proses Penciptaan Manusia
Proses lahir dan keberadaan manusia di dunia memang membuktikan kekuasaan Allah Yang Maha Besar. Seorang laki-laki dan perempuan yang telah menikah, maka dalam hubungan suami-istri akan terjadi proses pembuahan yaitu sang istri mengeluarkan 1 sel telur dan suami mengeluarkan jutaan sel sperma. Namun demikian dari jutaan sperma tersebut hanya 1 sel yang sampai kepada sel telur istri.Jadi, proses awal terbentuknya manusia saja sudah terjadi tingkat kompetisi yang tinggi. Terkait dengan proses terjadinya manusia, Allah berfirman dalam surah Al-Insaan yang berbunyi :“ Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar dan Melihat.”
Proses terbentuknya manusia ketika masih di dalam kandungan adalah sebagaiberikut :
a.         Allah SWT menjadikan saripati tanah yang terdapat dalam tubuh manusia sebagai nutfah (air yang berisi spermatozoa), kemudian ditumpahkan ke dalam qarar (rahim).
b.        Allah SWT menjadikan nutfah sebagai alaqah yang berbentuk gumpalan darah yang menyerupai buah lecis atau lintah.
c.         Dari alaqah Allah SWT menjadikannya sebagai mudgah yang berbentuk gumpalan daging hancur yang sudah dikunyah.
d.        Dari mudgah Allah SWT menjadikannya sebagai idzam, yaitu tulang/rangka.
e.          Kemudian tulang itu dibalut oleh daging.
f.         Kemudian Allah SWT menjadikannya sebagai makhluk dalam bentuk lain yaitu dalam bentuk manusia yang telah berkepala, berbadan, bertangan, dan berkaki.

2.3.2        Tujuan Penciptaan Manusia
Manusia di dunia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah, mengakui keberadaannya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya. Sesuai yang telah dijelaskan pada Q.S Adz-Dzaariyaat : 56, yang berbunyi :“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Ayat diatas tersebut merupakan dalil yang berkenaan tentang keberadaan manusia di dunia. Manusia di dunia untuk mengabdi kepada Allah SWT. Bentuk pengabdiannya tersebut berupa pengakuan atas keberadaan Allah SWT, melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sebagai bentuk mengakui keberadaan Allah adalah dengan mengikuti Rukun Iman dan Rukun Islam. Sebagai wujud keimanan terhadap Allah SWT., Allah SWT. menyatakan bahwa manusia tidak cukup hanya meyakini didalam hati dan diucapkan oleh mulut, tetapi manusia harus melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Eksistensi manusia di dunia adalah sebagai tanda kekuasaan Allah SWT terhadap hamba-hambaNya, bahwa Dia-lah yang menciptakan, menghidupkan dan menjaga kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan diciptakannya manusia dalam konteks hubungan manusia dengan Allah SWT adalah dengan mengimani Allah SWT. dan memikirkan ciptaan-Nya untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sedangkan dalam konteks hubungan manusia dengan manusia serta manusia dengan alam adalah untuk berbuat amal, yaitu perbuatan baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap sesama manusia, serta tidak merusak alam
. Lalu terkait dengantujuan hidup manusia dengan manusia lain dapat dijelaskan sebagai berikut :
·         Tujuan Umum Adanya manusia
`    Dalam Al - Qur’an Q.S. Al-Anbiya ayat 107 yang berbunyi :”Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Ayat ini menerangkan tujuan manusia diciptakan oleh Allah SWT dan berada didunia ini adalah untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Arti kata rahmat adalah karunia, dan kasih sayang. Jadi manusia diciptakan untuk menebar dan memberikan kasih sayang kepada alam semesta.

·         Tujuan Khusus Adanya Manusia di Dunia
Tujuan khusus adanya manusia di dunia adalah sukses di dunia dan di akhirat dengan cara melaksanakan amal shaleh yang merupakan investasi pribadi manusia sebagai individu. Allah berfirman dalam Q.S. An-Nahl ayat 97 yang berbunyi : ”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.”

·         Tujuan Individu Dalam Keluarga
Manusia di dunia tidak hidup sendirian.Manusia diciptakan berpasang-pasangan.Oleh sebab itu, sudah wajar bila laki-laki dan perempuan membentuk keluarga.Dan tujuan hidup berkeluarga adalah supaya hidup mereka menjadi keluarga yang bahagia dan tentram.Allah SWT memberikan rasa kasih sayang. Oleh sebab itu, dalam kelurga harus dibangun rasa kasih sayang satu sama lain. Sesuai firman Allah (Q.S Al-Ruum : 21), yaitu :“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum      DFyang berfikir.”

·         Tujuan Individu Dalam Masyarakat
Manusia juga mempunyai kebutuhan untuk bermasyarakat.Tujuan hidup bermasyarakat adalah keberkahan dalam hidup yang melimpah.Kecukupan kebutuhan hidup ini menyangkut kebutuhan fisik seperti makan, pakaian, kebutuhan sosial (bertetangga), dan lain-lain.Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat mudah diperoleh apabila masyarakat beriman dan bertakwa. Apabila masyarakat tidak beriman dan bertakwa, maka Allah akan memberikan siksa dan jauh dari keberkahan. Oleh sebab itu, jika suatu masyarakat ingin hidup serba berkecukupan maka kita harus memelihara iman dan takwa. Allah berfirman dalam QS Al-Araaf : 96, yaitu :”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Pada dasarnya manusia memiliki dua hasrat atau keinginan pokok, yaitu :
a.       Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya  yaitu masyarakat.
b.      Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam di sekelilingnya.

                              Istilah masyarakat dalam Ilmu sosiologi adalah kumpulan individu yang bertempat tinggal di suatu wilayah dengan batas-batas tertntu, dimana faktor utama  yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar  diantara anggota-anggotanya.

·         Tujuan Individu Dalam Bernegara
Sebagai makhluk hidup yang selalu ingin berkembang menemukan jati diri sebagai pribadi yang utuh, maka manusia harus hidup bermasyarakat / bersentuhan dengan dunia sosial.Lebih dari itu manusia sebagai individu dari masyarakat memiliki jangkauan yang lebih luas lagi yakni dalam kehidupan bernegara.Maka, tujuan individu dalam bernegara adalah menjadi warganegara yang baik di dalam lingkungan negara yang baik yaitu negara yang aman, nyaman serta makmur.

·         Tujuan Individu Dalam Pergaulan Internasional
Setelah kehidupan bernegara, tidak dapat terlepas dari kehidupan internasional / dunia luar. Dengan era globalisasi kita sebagai makhluk hidup yang ingin tetap eksis, maka kita harus bersaing dengan ketat untuk menemukan jati diri serta pengembangan kepribadian. Jadi tujuan individu dalam pergaulan internasional adalah menjadi individu yang saling membantu dalam kebaikan dan individu yang dapat membedakan mana yang baik dan buruk dalam dunia globalisasi agar tidak kalah dan tersesat dalam percaturan dunia.
Tidak Semua Makhluk Merealisasikan Tujuan Penciptaan Ini.Perlu diketahui bahwa irodah (kehendak) Allah itu ada dua macam, yaitu :
1.      irodah diniyyah, yaitu setiap sesuatu yang diperintahkan oleh Allah berupa amalan sholeh. Namun orang-orang kafir dan fajir (ahli maksiat) melanggar perintah ini. Seperti ini disebut dengan irodah diniyyah, namun amalannya dicintai dan diridhoi. Irodah seperti ini bisa terealisir dan bisa pula tidak terealisir.
2.      irodah kauniyyah, yaitu segala sesuatu yang Allah takdirkan dan kehendaki, namun Allah tidaklah memerintahkannya. Contohnya adalah perkara-perkara mubah dan bentuk maksiat. Perkara-perkara semacam ini tidak Allah perintahkan dan tidak pula diridhoi. Allah tidaklah memerintahkan makhluk-Nya berbuat kejelekan, Dia tidak meridhoi kekafiran, walaupun Allah menghendaki, menakdirkan, dan menciptakannya. Dalam hal ini, setiap yang Dia kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terwujud. Seperti dalam Surah Yaasin : 82 yang berbunyi :”Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah Berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia.”




2.3.3   Fungsi dan Peran Manusia
Dalam Al - Qur’an, disebutkan bahwa fungsi manusia di dunia ini ada 2 (dua) yaitu sebagai berikut :
·       Menjadi Abdi Allah SWT.
Menjadi Abdi Allah secara sederhana berarti, ‘hanya bersedia mengabdi kepada allah Ta’Ala’.
·       Menjadi Saksi Allah SWT.
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)

2.4 Tanggung Jawab Manusia        
                        Manusia diciptakan Allahuntuk menjadi khalifah di bumi.Khalifah berasal dari kata khalafa yakhlifu khilafatan atau khalifatan yang berarti meneruskan, sehingga kata khalifah dapat diartikan sebagai pemilih atau penerus ajaran Allah.Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.Sebagai khalifatullah, manusia diberi fungsi sangat besar, karena Allah Maha Besar maka manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi memiliki tanggung jawab dan otoritas yang sangat besar. Seperti yang terdapat dalam firman Allah SWT: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: Sesungguhnya Aku jadikan di bumi seorang Khalifah. Berkata Malaikat: Adakah Engkau hendak jadikan di muka bumi ini orang yang melakukan kerusakan dan menumpahkan darah, sedangkan kami sentiasa bertasbih dan bertaqdis dengan memuji Engkau? Jawab Allah: Aku lebih mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.” (Al-Baqarah:30)
Sebagai makhluk Allah, manusia mendapat amanat yang harus di pertanggung jawabkan di hadapan-Nya.Tugas hidup yang di pikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifahan, yaitu tugas kepemimpinan sebagai wakil Allah di muka bumi untuk mengelola dan memelihara alam.Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan.Manusia menjadi khalifah, berarti manusia memperoleh mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang di berikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya mengolah dan mendayagunakanapa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya sesuai dengan ketentuan yang di tetapkan oleh Allah.
Agar manusia bisa menjalankan kekhalifahannya dengan baik, Allah telah mengajarkan kepadanya kebenaran dalam segala ciptaan-Nya dan melalui pemahaman serta penguasaan terhadap hukum-hukum yang terkandung dalam ciptaan-Nya, manusia bisa menyusun konsep-konsep serta melakukan rekayasa membentuk wujud baru dalam alam kebudayaan.
Dua peran yang di pegang manusia di muka bumi.Sebagai khalifah dan ‘abd merupakan perpaduan tugas dan tanggung jawab yang melahirkan dinamika hidup, yang sarat dengan kreatifitas dan amaliah yang selalu berpihak pada nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu hidup seorang muslim akan di penuhi dengan amaliah, kerja keras yang tiada henti, sebab bekerja bagi seorang muslim adalah membentuk satu amal shaleh. Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan sebagai makhluk Allah, bukanlah dula hal yang bertentangan melainkan suatu kesatuan yang padu dan tidak terpisahkan.Kekhalifaan adalah ralisasi dari pengabdiannya kepada Allah yang menciptakannya.
Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidakseimbangan, maka akan lahir sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajat manusia meluncur jatuh ke tingkat yang paling rendah, seprti firman Allah dalam surat ath-Thin:4.
Dengan demikian, manusia sebagai khalifah Allah merupakan satu kesatuan yang menyampurnakan nilai kemanusiaan yang memiliki kebebasan berkreasi dan sekaligus menghadapkannya pada tuntutan kodrat yang menempatkan posisinya pada ketrbatasan.
Perwujudan kualitas keinsanian manusia tidak terlepas dari konteks sosial budaya, atau dengan kata lain kekhalifaan manusia pada dasarnya diterapkan pada konteks indvisu dan sosial yang berporos pada Allah, seperti firman Allah dalam Muthathohirin:112.



















BAB III
PENUTUP




3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan berbagai aspek yang telah kami bahas, maka kami dapat menyimpulkan bahwa hakekat manusia dalam pandangan islam yaitu sebagai khalifah di bumi ini. Yang mampu merubah bumi ini kearah yang lebih baik.Hal yang menjadikan manusia sebagai khalifah adalah karena manusia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki makhluk lainnya, seperti akal dan perasaan.Selain itu manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang paling baik, ciptaan Allah yang paling sempurna.






DAFTAR PUSTAKA

Arista,2000,Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah Allah,cv.media :Surakarta.
  Raden,2012,Tanggung Jawab Manusia Sebagai Hamba Allah,media post: Jakarta.
  Rizkal,2013,http://www.razka18.blogspot.com/konsep-manusia_9.html,
  http://kresnapw.wordpress.com/2013/12/30/eksistensi-martabat-manusia-agama-islam/
  http://senyawapagie.blogspot.com/2011/04/eksistensi-martabat-manusia-deskripsi.html