BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Manusia adalah
salah satu ciptaan Allah SWT. yang paling sempurna. Diciptakan dari saripati
tanah yang kemudian menjadi nutfah, alaqah, dan mudgah hingga akhirnya menjadi
wujud yang sekarang ini.
Salah Satu
kesempurnaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain ialah adanya
akal dan nafsu. Dua hal inilah yang membuat manusia dapat berfikir, bertanggung
jawab, serta memilih jalan hidup, kelebihan-kelebihan ini seperti yang
dijelaskan pada Q.S. Al-Isra 70. Selain itu ada kelebihan lain yang dimiliki
oleh manusia sehingga membuat manusia berbeda dari sesama manusia yaitu hati.
Jika hati manusia
kotor, derajatnya tentu akan sangat rentan di mata Allah SWT. Namun sebaliknya
jika hatinya bersih dari segala perbuatan yang kotor maka tentu derajatnya akan
ditinggikan oleh Allah SWT.
Sebagai makhluk
Tuhan tentu manusia selain memiliki hak juga memiliki kewajiban. Kewajiban yang
utama adalah beribadah kepada Allah SWT. sehingga apapun yang dilakukan manusia
harus sesuai perintah Allah SWT.
Adapun Tanggung
jawab manusia diciptakan oleh Allah SWT. di dunia ini adalah sebagai
khalifatullah dan sebagai abdi atau hamba Allah SWT
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas
timbul beberapa masalah,diantaranya:
1.
Apakah pengertian manusia dalam islam?
2.
Bagaimanakah penciptaan manusia dalam islam?
3.
Bagaimanakah eksistensi dan martabat manusia ?
4.
Apakah tujuan penciptaan manusia?
5.
Apakah fungsi dan peranan manusia dalam islam?
1.3 TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari topik ini adalah:
1.
Mengetahuipengertian manusia dalam islam.
2.
Mengetahui proses penciptaan manusia dalam islam.
3.
Mengetahui eksistensi dan maratabat manusia.
4.
Mengetahui tujuan penciptaan manusia.
5.
Mengetahui fungsi dan peranan manusia dalam islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
HAKIKAT MANUSIA DALAM ISLAM
Menurut bahasa,
Hakikat berarti kebenaran atau sesuatu yang sebenar-benarnyaatau asal segala
sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu adalah inti dari segala sesuatu atau
yang menjadi jiwa sesuatu. Karena itu dapat dikatakan hakikat adalah inti dan
jiwa dari suatu syariat itu sendiri.
Sedangkan Manusia atau
Al-Insan adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman
kepada Allah, dengan mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu
serta mengamati gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya
dan berakhlak (N.A Rasyid, 1983: 19).
2.1.1
Makhluk yang paling unik.
Dijadikan dalam bentuk yang paling
baik, ciptaan Allah yang paling sempurna, Keunikan manusia
dapat terlihat dari bentuk struktur tubuhnya, gejala-gejala yang ditimbulkan
jiwanya, proses pertumbuhannya yang melalui tahap-tahap tertentu, dan
sebagainya.Hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya dan
ketergantungannya terhadap sesuatu, menunjukkan adanya kekuasaan di luar
manusia itu sendiri.
2.1.2
Manusia memiliki potensi beriman kepada Allah.
Sejak dari awal tempat asalnya, manusia telah mengakui Tuhan,
dan telah bertuhan.Pengakuan
dan penyaksian bahwa Allah adalah Tuhan yang meniupkan ruh ke dalam rahim
wanita yang sedang mengandung berarti bahwa manusia mengakui kekuasaan Tuhan
termasuk kekuasaan Tuhan dalam menciptakan agama sebagai pedoman hidup manusia.
2.1.3
Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah.
Mengabdi kepada Allah dapat dilakukan manusia melalui jalur
khusus danumum.
a.
Khusus:Melakukan ibadah khusus dan pengabdian langsung ke pada
Allah
seperti ibadah sholat, shaum, haji dsb.
b.
Umum:Melakukan amal
saleh yang bermanfaat bagi diri sendiri dan
orang
lain, dilandasi dengan niat ikhlas dan bertujuan untuk mencari keridhaan Allah.
Allah selaku pencipta alam semesta dan manusia telah memberikan
informasi lewat wahyu Al-Quran dan realita faktual yang tampak pada diri manusia.
Informasi itu diberi-Nya melalui ayat-ayat tersebar, tidak bertumpuk pada satu ayat atau
satu surat. Hal ini dilakukan-Nya agar manusia berusaha mencari,
meneliti,memikirkan, dan menganalisanya.Tidak menerima mentah demikian saja.
Untuk mampu memutuskannya, diperlukan suatu penelitian Al-Quran dan sunnah rasul secara
analitis dan mendalam. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan penelitian
laboratorium sebagai perbandingan, untuk merumuskan mana yang benar bersumber
dari konsep awal dari Allah dan mana yang telah mendapat pengaruh lingkungan.Hasil
penelitian Al-Quran yang telah dilakukan, dapat
ditarik kesimpulannya bahwa manusia terdiri dari unsur-unsur: jasad,
ruh, nafs, qalb, fikr, dan aqal.
2.1.4
Penciptaan Manusia
Hal ini merupakan prinsip pertama
dari perkembangan yang dapat dipahami dalam Al-Quran, ketika menyatakan bahwa Allah Maha Pencipta. Dengan kata lain, kehidupan
manusia memiliki pola dalam tahapan-tahapan tertentu yang termasuk tahapan dari
perubahan sampai
kematian.(Q.S Nuh 13-14) menyatakan bahwa manusia diciptakan dan ditentukan
untuk perkembangan dalam tahapan. Ayat ini dalam pengertian bahwa manusia
diciptakan dari nutfah (tetesan), kemudian diubah menjadi alaqah (segumpal
pendarahan), kemudian menjadi mudhgah (segumpal darah), dan seterusnya.(Q.S
al-insyqaq 19) dalam pengertian surat ini bahwa manusia tumbuh dari satu
keadaan lain sedemikian rupa, menjadi kanak-kanak setelah bayi, menjadi tua
setelah muda dan kuat.
Dalam surat Al-Mu’minun ayat 12-15Allah S.W.T berfirman: Artinya :“12.Dan Sesungguhnya
kami telah
menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.13.Kemudian
kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh
(rahim).14.Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal
darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan
tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian
kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilahAllah,
Pencipta yang paling baik.15.Kemudian, sesudah itu,
Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.(QS. Al- Mu’minuun 23 :
12-15). “
Dari ayat diatas ini diketahui bahwa perkembangan embrio
terjadi secara bertahap. Tahapan-tahapan yang digambarkan dua ayat ini sama
persis dengan temuan ilmu pengetahuan modern. Secara global, pertahapan itu dapat dijelaskan sebagai
berikut : Sel telur yang belum dibuahi diproduksi oleh organ wanita dan
diletakan pada semacam tabung yang disebut fallopian. Saat
bersenggama, akan ada satu sperma laki-laki yang membuahi sel telur. Sel telur
yang dibuahi akan bergerak ke rahim (uterus)dan menempel pada dinding
rahim.Ketika menempel di dinding rahim, embrio akan berkembang sekitar 3
bulan.Setelah itu, terjadi perkembangan janin selama kurang lebih 6 bulan pada
masa persalinan.
Dalam surat assajadah ayat 7-9 yang
berbunyi:
الَّذِي
أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن
طِينٍ ﴿٧﴾ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِن سُلَالَةٍ مِّن مَّاءٍ مَّهِينٍ ﴿٨﴾ ثُمَّ
سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ
وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ ﴿٩﴾
Artinya : Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan
sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia
menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia
menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit
sekali bersyukur.(Q.S Assajadah 7-9)
Dari ayat al-Quran diatas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dari tanah. Tanah yang
diinjak-injak sehari-hari, tanah yang dijadikan tempat bercocok tanam,tanah
yang kering dan yang basah, tanah yang dijadikan tempat hidup bagi
cacing-cacing, tanah yang dijadikan sebagai bahan baku membuat genting,bata
merah untuk membuat bangunan tempat tinggal, itulah bahan baku untuk kejadian
seorang anak manusia dan tiap-tiap manusia tanpa terkecuali. Di mulai dari apa
yang dimakan sehari-hari, misalnya nasi,gandum,jagung,sayur-mayur dan
buah-buahan hingga daging, segala makanan yang dikonsumsi manusia itu tumbuh
dan mengambil sari makanan dari tanah.
2.2 KONSEP MANUSIA
Konsep manusia dibagi menjadi tiga
bagian:
2.2.1 Manusia
sebagai sistem
Manusia ditinjau sebagai sistem, artinya manusia terdiri
dari beberapa unsur/sistem yang membentuk suatu totalitas yakni sistem adaptif,
sistem personal, sistem interpersonal, dan sistem sosial.
Manusia sebagai sistem adaptif, disebabkan:
·
Setiap individu dapat berubah
·
Setiap individu merespon terhadap perubahan
·
Manusia sebagai sistem personal,
·
Setiap manusia memiliki proses persepsi
·
Setiap manusia bertumbuh kembang
·
Manusia sebagai sistem interpersonal
·
Setiap manusia berinteraksi dengan yang lain
·
Setiap manusia memiliki peran dalam masyarakat
·
Setiap manusia berkomunikasi terhadap orang lain
·
Manusia sebagai sistem sosial,
·
Setiap individu memiliki kekuatan dan wewenang dalam
pengambilan
keputusan dalam lingkungannya;
keluarga, masyarakat, dan tempat kerja.
Manusia sebagai sistem terbuka yang terdiri dari
berbagai sub sistem yang saling berhubungan secara terintegrasi untuk menjadi
satu total system yang terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
a. Komponen biologis adalah anatomi
tubuh
b.
Komponen psikologis adalah kejiwaan
c.
Komponen sosial adalah lingkungan
d.
Komponen kultural adalah nilai budaya
e.
Komponen spiritual adalah kepercayaan agama
2.2.2 Manusia
sebagai adaptif
Adaptasi adalah proses perubahan yang menyertai individu
dalam respon terhadap perubahan lingkungan mempengaruhi integritas
atau keutuhan. Lingkungan adalah seluruh kondisi keadaan sekitar yang
mempengaruhi perkembangan organisme atau kelompok organisme.Model konsep
adaptasi pertama kali dikemukakan oleh Suster Callista Roy (1969). Konsep ini
dikembangkan dari konsep individu dan proses adaptasi seperti diuraikan di
bawah ini.
Terdapat tingkatan dan respon fisiologik untuk memudahkan
adaptasi:
·
Respon takut (mekanisme bertarung)
·
Respon inflamasi
·
Respon stress
·
Respon sensorik
Asumsi dasar model adaptasi Roy adalah :
1.
Manusia adalah keseluruhan dari biopsikologi dan sosial yang
terus-menerus berinteraksi dengan lingkungan.
2.
Manusia menggunakan mekanisme pertahanan untuk mengatasi
perubahan-perubahan biopsikososial.
3.
Setiap orang memahami bagaimana individu mempunyai batas
kemampuan untuk beradaptasi. Pada dasarnya manusia memberikan respon terhadap
semua rangsangan baik positif maupun negatif.
4.
Kemampuan adaptasi manusia berbeda-beda antara satu dengan
yang lainnya, jika seseorang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan maka
iamempunyai kemampuan untuk menghadapi rangsangan baik positif maupun negatif.
5.
Sehat dan sakit merupakan adalah suatu hal yang tidak dapat
dihindari dari kehidupan manusia.
2.2.3 Manusia sebagai holistik
Manusia sebagai makhluk holistik mengandung pengertian sebagai
berikut,
manusiaadalah makhluk yang terdiri dari unsur
biologis, psikologis, sosial dan spritual, atau sering disebut juga sebagai
makhluk bio-psiko-sosial-spritual. Dimana, keempat unsur ini tidak dapat
terpisahkan, gangguan terhadap salah satu aspek merupakan ancaman terhadap
aspek atau unsur yang lain.
2.3 MARTABAT ATAU EKSISTENSI MANUSIA
2.3.1 Proses
Penciptaan Manusia
Proses terbentuknya manusia ketika masih di dalam
kandungan adalah sebagaiberikut :
a.
Allah SWT menjadikan
saripati tanah yang terdapat dalam tubuh manusia sebagai nutfah (air yang berisi spermatozoa), kemudian ditumpahkan ke dalam
qarar (rahim).
b.
Allah SWT menjadikan nutfah sebagai alaqah yang berbentuk gumpalan darah yang menyerupai buah lecis
atau lintah.
c.
Dari alaqah Allah SWT menjadikannya sebagai mudgah yang berbentuk gumpalan daging
hancur yang sudah dikunyah.
d.
Dari mudgah Allah SWT menjadikannya sebagai idzam, yaitu tulang/rangka.
e.
Kemudian tulang itu
dibalut oleh daging.
f.
Kemudian Allah SWT
menjadikannya sebagai makhluk dalam bentuk lain yaitu dalam bentuk manusia yang
telah berkepala, berbadan, bertangan, dan berkaki.
2.3.2
Tujuan Penciptaan Manusia
Manusia di dunia diciptakan untuk
mengabdi kepada Allah, mengakui keberadaannya, melaksanakan perintah dan
menjauhi larangannya. Sesuai yang telah dijelaskan pada Q.S Adz-Dzaariyaat :
56, yang berbunyi :“ Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Ayat diatas
tersebut merupakan dalil yang berkenaan tentang keberadaan manusia di dunia.
Manusia di dunia untuk mengabdi kepada Allah SWT. Bentuk pengabdiannya tersebut
berupa pengakuan atas keberadaan Allah SWT, melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sebagai bentuk mengakui keberadaan
Allah adalah dengan mengikuti Rukun Iman dan Rukun Islam. Sebagai wujud
keimanan terhadap Allah SWT., Allah SWT. menyatakan bahwa
manusia tidak cukup hanya meyakini didalam hati dan diucapkan oleh mulut,
tetapi manusia harus melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Eksistensi manusia
di dunia adalah sebagai tanda kekuasaan Allah SWT terhadap hamba-hambaNya,
bahwa Dia-lah yang menciptakan, menghidupkan dan
menjaga kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan diciptakannya manusia dalam
konteks hubungan manusia dengan Allah SWT adalah dengan mengimani Allah SWT. dan memikirkan ciptaan-Nya untuk menambah keimanan dan ketakwaan
kepada Allah SWT. Sedangkan dalam konteks hubungan manusia dengan manusia serta
manusia dengan alam adalah untuk berbuat amal, yaitu perbuatan baik dan tidak
melakukan kejahatan terhadap sesama manusia, serta tidak merusak alam
. Lalu terkait
dengantujuan hidup manusia dengan manusia lain dapat dijelaskan sebagai berikut
:
·
Tujuan Umum Adanya manusia
` Dalam Al - Qur’an Q.S. Al-Anbiya ayat 107
yang berbunyi :”Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk
(menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Ayat ini
menerangkan tujuan manusia diciptakan oleh Allah SWT dan berada didunia ini
adalah untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Arti kata rahmat adalah karunia,
dan kasih sayang. Jadi manusia diciptakan untuk menebar dan memberikan kasih
sayang kepada alam semesta.
·
Tujuan Khusus Adanya Manusia di Dunia
Tujuan khusus adanya manusia di dunia adalah
sukses di dunia dan di akhirat dengan cara melaksanakan amal shaleh yang
merupakan investasi pribadi manusia sebagai individu. Allah berfirman dalam
Q.S. An-Nahl ayat 97 yang berbunyi : ”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh,
baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan
kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan kami beri
balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.”
·
Tujuan Individu Dalam Keluarga
Manusia di dunia tidak hidup
sendirian.Manusia diciptakan berpasang-pasangan.Oleh sebab itu, sudah wajar
bila laki-laki dan perempuan membentuk keluarga.Dan tujuan hidup berkeluarga
adalah supaya hidup mereka menjadi keluarga yang bahagia dan tentram.Allah SWT memberikan rasa kasih sayang.
Oleh sebab itu, dalam kelurga harus dibangun rasa kasih sayang satu sama lain. Sesuai firman Allah (Q.S Al-Ruum : 21), yaitu :“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum DFyang berfikir.”
·
Tujuan Individu Dalam
Masyarakat
Manusia juga mempunyai kebutuhan untuk
bermasyarakat.Tujuan hidup bermasyarakat adalah keberkahan dalam hidup yang
melimpah.Kecukupan kebutuhan hidup ini menyangkut kebutuhan fisik seperti
makan, pakaian, kebutuhan sosial (bertetangga), dan lain-lain.Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat mudah
diperoleh apabila masyarakat beriman dan bertakwa. Apabila masyarakat tidak
beriman dan bertakwa, maka Allah akan memberikan siksa dan jauh dari
keberkahan. Oleh sebab itu, jika suatu masyarakat ingin hidup serba
berkecukupan maka kita harus memelihara iman dan takwa. Allah berfirman dalam
QS Al-Araaf : 96, yaitu :”Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya.”
Pada dasarnya
manusia memiliki dua hasrat atau keinginan pokok, yaitu :
a.
Keinginan
untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya yaitu masyarakat.
b.
Keinginan
untuk menjadi satu dengan suasana alam di sekelilingnya.
Istilah masyarakat dalam Ilmu sosiologi adalah
kumpulan individu yang bertempat tinggal di suatu wilayah dengan batas-batas
tertntu, dimana faktor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang
lebih besar diantara anggota-anggotanya.
·
Tujuan Individu Dalam
Bernegara
Sebagai makhluk hidup yang selalu ingin
berkembang menemukan jati diri sebagai pribadi yang utuh, maka manusia harus
hidup bermasyarakat / bersentuhan dengan dunia sosial.Lebih dari itu manusia
sebagai individu dari masyarakat memiliki jangkauan yang lebih luas lagi yakni
dalam kehidupan bernegara.Maka,
tujuan individu dalam bernegara adalah menjadi warganegara yang baik di dalam
lingkungan negara yang baik yaitu negara yang aman, nyaman serta makmur.
·
Tujuan Individu Dalam
Pergaulan Internasional
Setelah kehidupan
bernegara, tidak dapat terlepas dari kehidupan internasional / dunia luar.
Dengan era globalisasi kita sebagai makhluk hidup yang ingin tetap eksis, maka
kita harus bersaing dengan ketat untuk menemukan jati diri serta pengembangan
kepribadian. Jadi tujuan individu dalam pergaulan internasional adalah menjadi
individu yang saling membantu dalam kebaikan dan individu yang dapat membedakan
mana yang baik dan buruk dalam dunia globalisasi agar tidak kalah dan tersesat
dalam percaturan dunia.
Tidak Semua Makhluk Merealisasikan Tujuan Penciptaan
Ini.Perlu diketahui bahwa irodah (kehendak)
Allah itu ada dua macam, yaitu :
1.
irodah diniyyah, yaitu setiap
sesuatu yang diperintahkan oleh Allah berupa amalan sholeh. Namun orang-orang
kafir dan fajir (ahli maksiat) melanggar perintah ini. Seperti ini disebut
dengan irodah diniyyah, namun amalannya dicintai dan diridhoi. Irodah seperti
ini bisa terealisir dan bisa pula tidak terealisir.
2.
irodah kauniyyah, yaitu segala
sesuatu yang Allah takdirkan dan kehendaki, namun Allah tidaklah
memerintahkannya. Contohnya adalah perkara-perkara mubah dan bentuk maksiat.
Perkara-perkara semacam ini tidak Allah perintahkan dan tidak pula diridhoi.
Allah tidaklah memerintahkan makhluk-Nya berbuat kejelekan, Dia tidak meridhoi
kekafiran, walaupun Allah menghendaki, menakdirkan, dan menciptakannya. Dalam
hal ini, setiap yang Dia kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Dia
kehendaki tidak akan terwujud. Seperti dalam Surah Yaasin : 82 yang berbunyi :”Sesungguhnya
keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah Berkata kepadanya:
"Jadilah!" Maka terjadilah ia.”
2.3.3
Fungsi
dan Peran Manusia
Dalam Al - Qur’an, disebutkan bahwa
fungsi manusia di dunia ini ada 2 (dua) yaitu sebagai berikut
:
·
Menjadi
Abdi Allah SWT.
Menjadi Abdi Allah secara sederhana
berarti, ‘hanya bersedia mengabdi kepada allah Ta’Ala’.
·
Menjadi
Saksi Allah SWT.
“Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)
2.4 Tanggung Jawab
Manusia
Manusia diciptakan Allahuntuk menjadi khalifah di
bumi.Khalifah
berasal dari kata khalafa yakhlifu
khilafatan atau khalifatan yang
berarti meneruskan, sehingga kata khalifah dapat diartikan sebagai pemilih atau
penerus ajaran Allah.Kekhalifahan
mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap
makhluk mencapai tujuan penciptaannya.Sebagai khalifatullah, manusia diberi
fungsi sangat besar, karena Allah Maha Besar maka manusia sebagai wakil-Nya di
muka bumi memiliki tanggung jawab dan otoritas yang sangat besar. Seperti yang terdapat dalam firman
Allah SWT: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada
Malaikat: Sesungguhnya Aku jadikan di bumi seorang Khalifah. Berkata Malaikat:
Adakah Engkau hendak jadikan di muka bumi ini orang yang melakukan kerusakan
dan menumpahkan darah, sedangkan kami sentiasa bertasbih dan bertaqdis dengan
memuji Engkau? Jawab Allah: Aku lebih mengetahui apa yang kamu tidak
ketahui.” (Al-Baqarah:30)
Sebagai makhluk Allah, manusia mendapat amanat yang harus di
pertanggung jawabkan di hadapan-Nya.Tugas hidup yang di pikul manusia di muka
bumi adalah tugas kekhalifahan, yaitu tugas kepemimpinan sebagai wakil Allah di muka bumi untuk
mengelola dan memelihara alam.Khalifah berarti wakil atau pengganti yang
memegang kekuasaan.Manusia menjadi khalifah, berarti manusia memperoleh mandat
Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang di berikan
kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya mengolah dan
mendayagunakanapa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya sesuai
dengan ketentuan yang di tetapkan oleh Allah.
Agar manusia bisa menjalankan kekhalifahannya dengan baik,
Allah telah mengajarkan kepadanya kebenaran dalam segala ciptaan-Nya dan
melalui pemahaman serta penguasaan terhadap hukum-hukum yang terkandung dalam
ciptaan-Nya, manusia bisa menyusun konsep-konsep serta melakukan rekayasa
membentuk wujud baru dalam alam kebudayaan.
Dua peran yang di pegang manusia di muka bumi.Sebagai
khalifah dan ‘abd merupakan perpaduan
tugas dan tanggung jawab yang melahirkan dinamika hidup, yang sarat dengan
kreatifitas dan amaliah yang selalu berpihak pada nilai-nilai kebenaran. Oleh
karena itu hidup seorang muslim akan di penuhi dengan amaliah, kerja keras yang
tiada henti, sebab bekerja bagi seorang muslim adalah membentuk satu amal
shaleh. Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan sebagai makhluk
Allah, bukanlah dula hal yang bertentangan melainkan suatu kesatuan yang padu
dan tidak terpisahkan.Kekhalifaan adalah ralisasi dari pengabdiannya kepada
Allah yang menciptakannya.
Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri
setiap muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidakseimbangan, maka akan
lahir sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajat manusia meluncur jatuh ke
tingkat yang paling rendah, seprti firman Allah dalam surat ath-Thin:4.
Dengan demikian, manusia sebagai khalifah Allah merupakan
satu kesatuan yang menyampurnakan nilai kemanusiaan yang memiliki kebebasan
berkreasi dan sekaligus menghadapkannya pada tuntutan kodrat yang menempatkan
posisinya pada ketrbatasan.
Perwujudan kualitas keinsanian manusia tidak terlepas dari
konteks sosial budaya, atau dengan kata lain kekhalifaan manusia pada dasarnya
diterapkan pada konteks indvisu dan sosial yang berporos pada Allah, seperti
firman Allah dalam Muthathohirin:112.
BAB
III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan berbagai aspek yang telah kami bahas, maka kami
dapat menyimpulkan bahwa hakekat manusia dalam pandangan islam yaitu sebagai
khalifah di bumi ini. Yang mampu merubah bumi ini kearah yang lebih baik.Hal
yang menjadikan manusia sebagai khalifah adalah karena manusia memiliki
kelebihan yang tidak dimiliki makhluk lainnya, seperti akal dan perasaan.Selain
itu manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang paling baik, ciptaan Allah yang
paling sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Arista,2000,Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah Allah,cv.media
:Surakarta.
Raden,2012,Tanggung Jawab Manusia Sebagai Hamba Allah,media
post: Jakarta.
Rizkal,2013,http://www.razka18.blogspot.com/konsep-manusia_9.html,
http://kresnapw.wordpress.com/2013/12/30/eksistensi-martabat-manusia-agama-islam/
http://senyawapagie.blogspot.com/2011/04/eksistensi-martabat-manusia-deskripsi.html